Cita-Cita yang Belum Kesampaian

Saya termasuk orang yang suka belajar. Hingga saya lulus kuliah, ortu belum pernah sekali pun nyuruh saya belajar. Gimana mau nyuruh jika saya sendiri menjadikan aktivitas belajar sebagai penghilang stres. Bahkan, main (permainan tradisional) sama temen-temen kampung atau beberes rumah pun bagi saya saat itu juga belajar. Apa aja, belajar.

Beranjak dewasa, rencana saya seperti ini: nikah muda, kemudian lanjut S2 dan S3 dengan cara nyari beasiswa, trus cuzz jadi ibuu. Jadi ketika punya anak satu, status saya udah doktor gitu maksudnya. πŸ˜€

Heii, tapi kehidupan itu enggak mulus-mulus aja, yaa. Kita punya rencana terus seperti jalan tol yang lurus terusan nyampek. Helawww ??? Enak banget kalau gitu. Semua orang juga mau gitu kalii.

Karena beberapa faktor, akhirnya keinginan saya untuk lanjut S2 dst saya pendam dulu. Plan A belum bisa jalan, masih ada plan B – Z. Jadi jangan galau apalagi bunuh diri ya yang plan A nya belum kesampaian. Tuh plan B sampai Z menanti buat dieksekusi.

Apa yang saya lakukan kemudian? Melakukan yang saya bisa lakukan daripada meratapi hal-hal yang tidak bisa dilakukan yang malah buang-buang waktu produktif.

Berhubung kami berdua sepakat untuk menunda punya anak di awal nikah (saya nikah usia 21, suami 23) dan kondisi saya waktu itu belum bisa lanjut S2 karena hal-hal nonteknis (saya belum sempat tes anu ini itu lha wong sebabnya karena hal-hal nonteknis, bukan karena udah tes tapi gak ketrima) serta enggak kerja kantoran karena alasan nonteknis juga -padahal sempat diterima kerja tanpa tes (bagi lulusan terbaik) di perusahaan internasional di Jakarta- … yaa … karena ituu … saya memaksimalkan apa yang sudah saya pelajari selama sekolah dan kuliah dengan menulis buku dan artikel yang berkaitan: buku-buku akuntansi dan kumpulan soal-soal serta artikel berbau finance di salah satu kantor konsultan manajemen di daerah TB. Simatupang kemudian terakhir mencicipi sebagai editor lepas naskah terjemahan. Alhamdulillah diberi kesempatan buat mengeksplore dan belajarr. πŸ™‚

Kinii, setelah sekian lama saya berkutat di dunia baruu, impian lama tsb seolah muncul kembali karena suami saya sedang mengurus hal itu di negeri anu. Akankah kemudian saya melanjutkan cita-cita lama saya ketika nanti ikut suami di negeri anu? Let’s see. Dalam hati sih iyess, jujurrr. Udah ada dalam kepala nanti ikut suami ke anu terus sambil begini dan momong anak sendiri, enggak didelegasikan ke siapa-siapa. Tapii lagi-lagi manusia hanya bisa berencana dan berusaha sebaik-baiknya, kan.

Semoga diberikan yang terbaik. Doakan, yaa. πŸ™‚ πŸ˜€

Advertisements

2 thoughts on “Cita-Cita yang Belum Kesampaian

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: