Apakah Kebahagiaan Pasutri Hanya Jika Udah Punya Anak?

Apakah kebahagiaan pasutri (pasangan suami istri) hanya jika keduanya sudah resmi menjadi orangtua? Apakah pasutri yang belum punya anak udah pasti enggak bahagia atau tidak boleh bahagia?

Jawabannya “TERGANTUNG”

Kalau pasutri tersebut menikah hanya karena omongan orang, males diteror kapan nikah, stres karena semua teman udah nikah, hanya karena ingin pasang foto romantis di media sosial (alasan paling konyol yang pernah ada), atau alasan serupa yang intinya enggak murni dari hati karena beneran pengin nikah alias enggak tulus … bisa jadi kebelumadaan anak akan membuat keduanya stres. Lebih-lebih, masyarakat Indonesia itu sangat peduli. Maksudnya, setelah pertanyaan “kapan nikah” selesai, maka akan terbit pertanyaan lanjutan “kapan punya anak?” atau “kok belum punya anak juga?” Nah, kan. Stress yaa kalau hidup nurutin kata orang alias cuma ngejar pencitraan baik. ๐Ÿ˜€

Saya sendiri kenal banyak pasutri yang belum diberi momongan, tapi terlihat banget kalau keduanya saling mencintai. Terlihat dari binar mata keduanya ketika saling memandang satu sama lain. Perhatian banget guwehh. Wkk.

Kami pun enggak luput dari masalah ditanya hamil atau kenapa enggak hamil-hamil.

Awal nikah hingga beberapa tahun berikutny sih masih biasa aja karena pas itu kami memang menunda. Saya pakai pil KB diane 35. Jadi kalau dikepoin paling senyum aja. Sebab kalau saya cerita sengaja menunda pakai pil ntar diceramahin lagi dari a sampai z. Wkk. Jadi ya udahlah senyum aja, terserah dengan persepsi yang nanya. Kalau keluarga dekat sih udah tahu ya pastinya. Jadi ya biasa aja.

Apakah selama itu, kami enggak menikmati hanya karena masih berdua sementara teman-teman kami satu per satu sudah beranak-pinak alias memiliki buah hati yang lucu-lucu. Alhamdulillah kami menikmati masa-masa itu. Kebahagiaan kan dirasakan, bukan diceritakan. Hanya yang menjalani yang benar-benar memahami. Yang jelas, di fase itu, kami berdua masih seneng-senengnya berpetualang.

Kegalauan itu baru kami, saya sih sebenernya, rasakan pas di Balikpapan, pas saya udah lepas pil KB, pas emang udah ngerencanain punya anak. Saya sempat down ketika ada salah seorang teman, yang anaknya lumayan banyak, bilang kalau tetangganya dipoligami hanya karena ybs enggak bisa punya anak jadii saya mesti hati-hati. Untuk yang pertama kalinya dalam sejarah (bukannya lebay ya, tapi emang saya belum pernah nangis menjerit-jerit hanya karena ditanya kapan punya anak atau kenapa gak hamil-hamil) saya menangis. Maksudny, sejarah alias kebiasaan ditanya kapan hamill. ๐Ÿ˜€

Yang bikin saya nangis dan down serta marah, “Dia sotoy banget seolah-olah tahu persis gimana Mas Ryan, seolah udah kenal ratusan tahun gitu, seolah mendoakan,” namanya juga lagi drama, pasti pikiran ke mana-mana.

Setelah ditenangkan sama suami sih saya enggak drama lagi. Saya inget, kami saat itu berjanji mau ada anak atau cuma berdua, kami akan bersama hingga maut memisahkan, akan saling menguatkan, akan selalu ikhtiar gak bosan-bosan. ๐Ÿ™‚

Dan kini ketika kami resmi jadi orangtuaa, bersyukur banget tentunya. Kami dikasih kesempatan mengaplikasikan ilmu parenting yang sudah kami pelajari selama ini. Tugas berikutnya lebih menantang lagi yakni mendidik anak-anak di zaman yang udah makin edun seperti sekarang. ๐Ÿ™‚

So, anak bukanlah alat pamer, “Ni guwe dunk udah punya anak, lah elu?” Enggak gituu. Kasihan anaknya kalau dia hanya digunakan ortunya sebagai alat. Anak adalah amanah, anugerah.

Balik lagi ke pertanyaan awal, jadi apakah kebahagiaan pasutri hanya diukur dari mereka udah punya anak atau belum? Kami sepakat menjawab TIDAK. Ada banyak lhoh pasutri yang udah punya anak (enggak cuma satu malah), tapi berantem mulu, hanya rukun pas foto keluarga aja. Dann, enggak sedikit pasutri yang udah belasan bahkan puluhan tahun belum diberi anak tapi tetap saling setia dan mendukung. Semua tergantung yang menjalani. Normalnya sih menikah, bahagia, punya anak, makin bahagia. Namun saat kondisi tidak seideal teori, bukan berarti pasutri enggak boleh bahagia kan. Coz hapiness is created, not found. Dan salah satu tolak ukur bahagia itu ketika seseorang enggak nyinyirin hidup orang lain yang dalam konteks ini enggak nanya dengan nada gak enak kapan punya anak atau menakut-nakuti bahkan meneror dengan kata-kata nanti kalau enggak punya anak bisa anu lhoh atau semacamnya.

Bahagia itu enggak perlu dibuktikan atau dikatakan ke orang, tapi dirasakan. Adapun implementasi sikap bahagia adem ayem dengan kondisi ya salah satunya dengan bisa mengendalikan sikap ketika berinteraksi dengan orang lain. ๐Ÿ™‚

Semoga yang sudah diberi anak diberikan kekuatan sama Allah untuk menjadi orangtua yang tangguh, anak-anaknya sholeh/sholehah bermanfaat bagi sesama.

Dan yang belum diberi momongan, semoga diberi di waktu yang tepat sama Allah, & makin solid.

Aamiin

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: